Aspek Logis Seorang Soekarno

“Soekarno dibenci bagai bandit, dipuja bagai dewa.”, begitulah kira-kira ujar Sang Putra Fajar manakala Cindy Adams, seorang jurnalis berkebangsaan Amerika mewawancarai Bapak Proklamator di Istana negara puluhan tahun silam. Tahun 1960 an jelang akhir kekuasaannya.

Mungkin, ungkapan itu terucap, bukan tanpa sebab.

Walau dipuja bagai dewa oleh para pendukungnya, sebagai manusia biasa, sudah barang tentu Soekarno bukan tanpa cela.

Beberapa dari mereka yang berseberangan dengan Soekarno memiliki beberapa versi tersendiri dalam memaknai arti kata “c-e-l-a” yang sudah Saya sebut tadi.

Hatta, setelah mengundurkan diri sebagai wapres, tercatat beberapa kali melayangkan kritik ke pemerintah.

Revolusi, saat itu, dipandang Hatta sudah cukup. Semestinya, Indonesia mulai melakukan pembangunan. Utamanya pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia (pendidikan).

Tak cuma Hatta, Buya Hamka, tokoh dari Masyumi yang juga seorang ulama pun pernah bersebrangan dengan sang Bapak bangsa.

Saat ia tanpa tedeng aling-aling mengritik pemerintahan yang akan memaksakan penerapan sistem demokrasi terpimpin.

“..Trias Politica sudah kabur di Indonesia….! Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme…! Front Nasional adalah partai Negara…!” teriak Hamka menggema di Gedung Konstituante tahun 1959, ketika mengajukan Islam sebagai dasar Negara Indonesia dalam sidang perumusan dasar Negara.

Tak lama, Konstituante dibubarkan oleh Soekarno. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai tempat bernaung Buya Hamka pun dibubarkan paksa. Para pimpinannya ditangkap, dijebloskan ke balik jeruji.

Walau kemudian, jelang akhir hayat, Soekarno berwasiat agar Buya menjadi imam shalat jenazahnya. Sejarah pun kemudian mencatat, hal itu pula yang terjadi.

Tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat pada bung Karno, barangkali kesalahan terbesar beliau sebagai seorang manusia adalah ia terlalu banyak tebar pesona.

Akibatnya ? Soekarno, bagi para pendukung setianya lebih dikenang akan keselarasan ia berpakaian, kemampuannya berpidato dan memukau ribuan hingga jutaan orang untuk tetap setia mendengar walau dalam panas terik menyengat atau pun guyuran hujan. Belum lagi soal teriakan lantangnya menolak bantuan dari Amerika: “Go To Hell with your aid !” yang terkenal itu.

Dalam ingatan para loyalis, kuat terpatri memori kegagahan atributnya sebagai panglima besar revolusi, Sisi klenik/mistis apalagi. Contoh? tongkat komando dengan daya linuwih yang kabarnya hilang bak ditelan bumi.

Tak ketinggalan, kabar perihal kesaktian yang konon beliau peroleh akibat kegemarannya melakukan tapabratha ke berbagai tempat di nusantara.

Seolah seorang seokarno penuh aspek tak terjangkau akal, alias mistis. Padahal sejatinya ia logis.

Soekarno seolah tak memijak tanah. Dipuja bak dewa, membuat pendiri PNI ini seolah mampu berbuat sebagai juru selamat, menjadi jawaban atas semua permasalahan. Ketokohannya sedemikian familiar, begitu agung hingga menjadi kabut tebal bagi buah pemikirannya yang brilian melampaui jaman. Sosoknya seolah begitu dekat, sementara buah pemikirannya seolah menjadi asing di telinga.

Padahal, semestinya, kita mampu lebih mengenali beliau dari sudut pandang subtansi pemikiran.

Ah, betapa beliau ini sangat visioner. Di tahun 1930-an dalam suluh indonesia muda beliau sudah meramalkan bahwa perang dunia akan terjadi di kawasan pasifik. Dipicu oleh ketegangan antara Jepang – yang sedang gencar melakukan ekspansi – dan bersinggungan dengan kepentingan barat.

Beliau juga dengan akurat memprediksi arah pergerakkan peta geopolitik. Perang tadi akan menjadi awal kebangkitan bangsa-bangsa di Asia.

Asia yang bangkit membuat eropa bak orang tua tak berdaya, sementara asia ibarat seorang gadis muda yang sedang mekar-mekarnya. Kini, 2016 , prediksi itu sudah kita saksikan bersama-sama.

Soekarno dengan segala pemikiran dan tindakannya, semestinya kita kenali secara subtansi.

Pancasila yang ia gagas juga bukan aspek teoritis belaka. Sungguh pancasila itu adalah step by step bagaimana sebuah bangsa mampu mewujudkan keadilan sosial.

Bangsa Indonesia perlu menjadi bangsa berketuhanan terlebih dahulu. Sila pertama. Awal.

Dengan mengenal tuhan dan berketuhanan, maka diharapkan manusia indonesia mampu memrioritaskan aspek kemanusiaan yang berkeadilan dan beradab dalam memperlakukan sesama manusia.

Setelah ibadah Maghdoh, ibadah pada tuhan, ada ibadah muamalah, ibadah ke sesama manusia. Ibadah sosial. Hablumminallah diikuti Habblumminannas.

Setelah manusia indonesia saling memanusiakan dan berbuat adil pada sesamanya (Sila ke 2) terlaksana, maka outcome yang terjadi adalah persatuan Indonesia. (Sila ke 3).

Bersatu saja tidak cukup. Indonesia yang bersatu dan bergotong royong akan mampu menyelesaikan tantangan yang dihadapi, apabila diantara kita mampu untuk saling bermusyawarah untuk mufakat. (Sila 4).

Jika keempatnya terlaksana maka akan tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia (Social justice) yang termaktub pada sila ke-5.

Bagaimana, ternyata seorang Soekarno sangat luar biasa (dan) logis, bukan ?